Cacao Butter Cupcakes


Sebagai salah satu sweet tooth garis militan yang setiap minggunya bisa baking 3-4 kali, beralih ke pola eating clean itu sungguh syusyahnya minta ampun. Lha piye coba, tiap nyampur tepung dan telur dan mentega yang terbayang adalah gluten resisten, kolesterol, gula darah dan produk dairy yang belum tentu kompatibel dengan sistem cerna manusia. Surem amat yak pikiranku. 

Iya, iya ga semua orang punya celiac disease. Mayoritas penduduk dunia juga ramah kok pada produk dairy. Dan yang terpenting kan consume everything in moderation, afafun yang berlebihan itu tydack baik, Markonah. Tapi batin juga menjawab, if we can make something at its best, why not? Kita semua punya pilihan kok, mau tetep bergantung pada pabrik untuk bikinin cemilan kita atau kita sendiri yang turun ke dapur. Mau menggunakan bahan artifisial yang iya food grade, atau memutar otak dan mengeluarkan dana lebih untuk mendapatkan bahan yang alami. Dan makin kesini, saya memilih opsi terakhir...

Saya paham kalo harga adalah salah satu hal yang langsung TRIIING di kepala saat kita mendengar konsep kekinian macam "healthy living", "eating clean", "artisan" bahkan "zero waste". Ga bisa dipungkiri, memang makanan/bahan makanan yang terkait dengan konsep-konsep tersebut ga murah kok. Coba bandingkan sayur di pasar versus sayur organik, harganya jauh lebih mahal yang organik kan? Tapi coba sekarang paradigmanya diperlebar lagi, membeli produk organik berarti kita ikut memberdayakan petani lokal, berarti kita ikut berlaku ramah pada tanah, air dan udara. Mengkonsumsi produk ramah lingkungan berarti kita sedang turut serta menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang. Iya, sejauh itu dampak dari pilihan konsumsi kita. Kita ngerasa mahal karena ongkos kerusakan kita bebankan pada bumi, yang suatu saat nanti akan makan rusak ...

Duh ngomong apaan si kok ndakik-ndakik banget hahahhaah. Entah nih ya, sejak awal tahun ini, saat menuliskan 'zero waste' ke dalam daftar resolusi, saya jadi makin surem alias apa-apa dipikirin segitu jauhnya hahahahah. Tapi kok ya anehnya, entah Law of Attraction atau apa, seolah semesta mendukung daftar resolusi yang satu ini. Misalnya nih, diampiri sama Cau Chocolate!

Seneng? Bianget! 
Begini. Awal tahun ini sejak rutin bikin smoothie, saya berkenalan sama Cau Chocolate lewat produknya Raw Cacao Nibs untuk taburan smoothie. Raw cacao nibs adalah biji kakao mentah yang ditumbuk kasar, bisa dinikmati langsung, nutrisinya masih penuh dan yang pasti rasanya aseli coklat: pahit. Raw cacao nibs milik Cau Chocolates ini sampe sekarang masih saya gunakan untuk konsumsi harian dan kadang jadi gantinya chocolate chips untuk bikin cookies atau cake. 



Beberapa hari lalu pihak Cau menghubungi dan meminta saya bikinin video pakai produk mereka. Sebagai konsumen, seneng banget lah yaaaa. Dan jauh lebih seneng lagi (selain karena invoice cair sebelum video tayang #eh) adalah saya dikirimin Cacao Butter, produk Cau yang udah lama diidamkan tapi belum kesampean! Bila Cacao nibs adalah biji cokelat, maka Cacao Butter adalah minyak biji cokelat. Berwarna kuning gading dengan sekilas rasa cokelat, cacao butter bisa digunakan sebagai lemak di kreasi dapur kita, misalnya gantinya atau campuran mentega/margarin.

Produk dari Cau saya bikin Cacao Butter Cupcakes, cupcake berbahan dasar cacao butter yang bikinnya gampil banget karena tinggal aduk-aduk tanpa mikser sama sekali. Teksturnya lembut padat dengan remah yang minim serta moist banget! Mirip sama muffin tapi ringan, enak deh! Dan toppingnya saya pakein chocolate glaze yang dibuat dari gula halus, cokelat bubuk dan cacao butter seuprit; sengaja pilih yang ringan biar ga bosenin. Maklum lah ya pengaruh umur, liat cupcakes dengan buttercream lucu cuma suka liatnya aja, tapi ga mau ikut makan karena kebayang kalorinya 😌




Buat mempercantik tampilan cupcake, setelah diberi chocolate glaze icing saya kasih potongan cokelat vegan series dari Cau juga. Cokelat vegan ini jadi tanpa tambahan produk dairy sama sama sekali, sehingga rasanya aseli cokelat yg ada pahit-pahitnya gitu. Satu box vegan series berisi 5 cokelat ukuran 30 gr dg aneka rasa dan isian: mete, almond, kopi, mint dan jahe. Dicemil biasa aja udah enak apalagi buat topping cupcake, ye kaaan. Udah gabisa berkata-kata, enaknya dapet, sehatnya apalagi 😋




Cacao Butter Cupcakes
inspired by cupcakesproject

150 gr tepung mokaf
1/2 sdt baking powder
1/4 sdt baking soda
1/4 sdt garam
115 gr cacao butter Cau Chocolates
2 butir telur
150 gr gula pasir 
120 gr yogurt/santan kental

Cara membuat:
Panaskan oven suhu 180 C.
Cincang cacao butter, lalu panaskan di panci yang berisi air panas (double boiler) hingga cacao butter meleleh, angkat.
Campur tepung, baking powder, baking soda dan garam di wadah.
Tuang cacao butter, aduk rata.
Masukkan telur, aduk rata.
Terakhir tuang gula pasir dan yogurt, aduk hingga rata. 
Bagi adonan ke dalam 10 lubang loyang muffin yang dialasi kertas cupcake, lalu panggang hingga matang sekitar 15 menit. Angkat, dinginkan.



Chocolate Glaze Icing

250 gr gula pasir bubuk (icing sugar)
2 sdt cokelat bubuk
1 sdt cacao butter, cincang
2 sdm air panas

Cara membuat:
ayak gula bubuk dan cokelat bubuk, letakkan di wadah tahan panas.
Beri air panas dan cacao butter, lalu aduk hingga bertekstur pasta kental.
Masak air di panci, jaga agar air tetap simmer, lalu panaskan wadah berisi campuran  gula tsb di atas air di panci (double broiler), aduk sebentar hanya agar sampai berbentuk pasta lembut dan spreadable. Jangan terlalu lama memanaskan atau glaze akan mengkristal.










No comments