content


 Katanya kalo mau jadi content creator yang uwow tuh mesti melebarkan sayap di segala platform, dari IG, facebook, youtube, twitter, sampe ke yg lagi hot: podcast. Kalo perlu blog, tiktok, myspace, friendster borong dah. Karena setiap platform punya audience masing² jadi kita mesti ngeksis dimana saja agar supaya dikenal oleh berbagai macam audience lalu sebagai dampaknya akan berdatanganlah pundi pundi rupiah yang menyilaukan iman dan taqwa itu.

Sebagai naq qeren, nyoba dong saya. Rencananya gini: instagram sbg jembatan berisi spoiler yg mengarahkan pada video di youcub (tanpa batasan waktu 1 menit) dan blog (tanpa batasan 2000 kata spt caption). Bikin thread juga di twitter. Oh jangan lupa ig story dibikin tusuk jelujur. Punya rencana ngepodcast juga meski ga kebayang mau cerita tentang apa, errr kegagalan baking mungkin? 🤔

Lalu beberapa minggu terakhir ini coba dipraktekin deh, in the name of self improvement, empowerment etc. Motrek, bikin video, masak sehat, ikut kelas onlen ini itu yg tentu bebarengan dg urusan rumah tangga yg ga ada habisnya. Misalnya 2 minggu lalu saat bikin es krim dan sutingnya ada dua jam an. Motrek malemnya pas eskrimnya udah beku, sejam. Transfer data, editing video dan foto, aplod yucub total bisa dua jam lebih karena ngedit video untuk instagram dan youtube itu beda lagi. Ngetik ngalor ngidul di blog sejam. Mau ngerjain tugas kelas onlen udah ga kegarap karena ternyata saya gabisa kerja di bawah tekanan 😂
Besokny aplod di ig, sambil sekroling sambil bales komen sejam lebih. Lalu ... lalu .... I can't keep up.
.
.
.
.
.
Life in socmed is hard. Tiap orang kayaknya pada lari maraton dan kita ngerasa ketinggalan terus kalo kita ga lari ngebut juga. Kemarin video kita viral, hari ini kita dilupakan. Selalu muncul foto yg lebih cakep, video yg lebih asyik, resep yg lebih mumpuni, caption yg lebih renyah, profil baru yg lebih menarik, every single day.

Bahwa medsos memberi begitu banyak inspirasi, informasi dan pertemanan, iya. Tapi mencurahkan sebagian besar energi dan waktu untuk layar di genggaman ini sesungguhnya melelahkan. Well, mungkin saya aja yg belum bisa mengatur waktu utk bisa kerja dg efektif efisien. Mungkin saya aja yg terlalu ambisius mengejawantahkan passion. Mungkin saya aja yg take everything too serious. Mungkin saya aja yang mata duitan. Mungkin saya aja yang pengen ngeksis di segala penjuru. Mungkin.

Then I step back and take a deep breath. Huuuuuhaaaaaaah!!! Again and again, I'm asking to myself: yey ngapain sih ngeksis di ig? Terus ikutan kelas onlen sana sini,  sekarang ngidupin blog (pake domain .com lagi gaya amat yey), masih juga di yucub? WTF ARE YOU LOOKING FOR?

Setelah mikir berlama-lama, kira-kira ini jawaban saya.

Instagram adalah tempat untuk show off karya, of what I like, what I'm doing, what I believe. I do love money, yaeyalah, impian beli lensa dan segala tetek bengeknya masih merajalela di dalam sanubari, but I realize there is something more important than that: my sanity.

Ngerasa banget saat kemaren nggarap beberapa foto produk dan endorsement yang bebarengan. Ga bisa tidur karena mikir konsep, mikir nyari bahan ke mana, mikir kalo ga ada ini diganti itu bisa apa ga, mikir model suting kayak gimana lagi biar ga bosenin, belajar editing di pc, balesin korespondensi dg agency lalu bikin invoice - ngeprint - ngirim, liat anak-anak yang jadi makan sembarangan, kurang tidur, mandi sekali sehari, senggol sithik bachok, sensitif. lalalalalalala pokoknya. Yha setelah selesai sih seneng bisa beli kamera baru tapi kalo keinget 4 minggu yang melelahkan itu, no, I don't want that as my daily life.

Bahwa saya bersyukur karena bisa ngerjain hobi di rumah sekaligus earning money, yes! But also that I missed something I can't explain, yes, also. Ini bukan tentang menolak rejeki lalu membandingkan dengan kehidupan orang lain yang berharap di posisi saya. Ini tentang saya yang belajar menyusun prioritas dan belajar berkata cukup, it's okay not to have anything you want. It's ok to spend hour of hours making picture and videos and writing long caption but still, your followers and likes doesn't increase significantly (I mean, no I don't really care about numbers, but let's be honest that however, numbers is matters). It's okey.

It's ok to have less endorsement than others.
it's ok that your picture doesn't much likes though you reaaaaally like your own picture, you like it riiiite?
it's ok to say no to someone who asked your help but you don't want to because it's just feel not rite to do so.
it's ok to refuse a project because it's not match with what you believe.
it's ok to step back, stop and change your mind.
it's ok to not be a part of something hype or cool or latest or wow.
it's ok to be alone and watch the crowd from afar.
It's ok to be imperfectly juggling in real life rather than chasing perfections in social media.
I am not here to make everyone happy and grant their wishes.

Saya belajar untuk egois, bahwa perkara media sosial ini ga akan saya biarkan kalo sampe menguras waktu harian saya. I want to create content that make me happy. I am a content creator but I won't let content create me.


in frame: @bake.dreams sourdough sweets bread in @itsaceramic plates (newly obsessed in handcrafted stuffs and food)

No comments