money and me


Yaeyalah Munaroh, ko pikir ada orang sampe miara babi ngepet tujuannya buat sekadar hobi apa? 😒

Pun begitu pula dengan memotrek lalu memamerkannya di instagram. Iya iya kalian boleh teriak "hey, this is my passion lah yauw" or whatsoever, tapi saat ada teman yang lagi ngiklanin sebuah produk dan mereka dibayar untuk itu, tidakkah kau rasakan getaran di dada lalu bertanya pada angin yang berbisik...."Ngin... kenapa aku ga dapat endors juga?" 😢

Lalu ternyata, drama justru tercipta saat tawaran kerjasama alias endorsement datang dan mereka bertanya tentang rate card. Yah syukur-syukur lah kita bingung pas ditanyain rate card, daripada kita bingung kok diminta motrek tapi ga ada omongan soal fee... 😜

Jadi, berapa ratecard mu? 🙊

Ga ada ukuran pasti atau standar tentang tarif untuk memposting (baik di feed maupun story) di instagram. Selebgram kelas atas macam Awkarin atau tingkat kecamatan kayak kita mah ya bebas-bebas wae mau pasang harga jutaan atau kasi free..

Free? Maksodloooooh 😱😲

Yakali motrek atau suting itu ga butuh daya, upaya, keringat bercucuran, beli properti, lensa dan kamera sampai aspek imateriil macam waktu dan beban psikologis; dan elu bilang freeee??? Eh lu tahu ga, saat lu kasi free, maka secara ga langsung lu lagi ngerusak pasaran content creator di aiji (English pronunciation for IG). Saat lu kasi free, atau kasimura ke brand gede yang nyewa agency, berarti lu merendahkan skill elu dan bikin si ejensi keenakan. Saat lu kasi free atau murah, berarti lu ga menghargai skill diri lu dan temen-temen lu yang emang beneran bisa motrek/masak. 😤😤😤😤

Sudah ceramahnya?

Tahukah kamu bahwa Brooke Lark, seorang fotografer profesional di Utah menaruh foto-fotonya di sebuah situs yang baru lahir saat itu, unsplash, for free, dimana semua orang yang masuk situs tersebut bebas mengunduh fotonya tanpa bayar sepeserpun? Dan tahu ga, dia bilang bahwa tindakannya tersebut adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidupnya yang justru bikin namanya besar saat ini. Lho lho... terus dia dapat apa dong? 😨

Beberapa hari lalu, travel vlogger bli Adit menulis di instastorynya seperti ini:



Nangkep ga maksud Brooke Lark yang gratisin fotonya atau bli Adit yang encourage utk kasi free? 

Purpose.

Itu yang membedakan.

Bayaran itu ga melulu berupa duit. Kalo kata om pinot, saat memutuskan untuk ngasi fee yang murce mursida atau malah gratesan, tanyakan hal ini ke diri sendiri:
- Ada pengalaman yang nambah ga?
- Ada update-an portofolio ga?
- Nambah network ga?
dan berbagai pertanyaan lain yang bisa kita ukur sesuai dengan kemampuan diri, yang tentu saja berbeda dengan orang lain. Pertimbangannya bisa dari "iseng aja" sampai faktor spiritual juga boleh.

Buat mbak Brooke Lark, the power of sharing (for free) yang diusung unsplash-lah yang bikin dia senang: foto-fotonya dipakai oleh orang di berbagai belahan dunia untuk bahan pengajaran oleh guru, oleh murid-murid untuk bikin slide presentasi yang kece, dsb. Sharing tersebut membuat namanya nyempil ke berbagai ahensi yang akhirnya menghubungi mbak Brooke untuk bekerjasama, yang tentu saja bersifat profesional! 😍

Sejujurnya, saya sedang menerapkan contoh di atas ke diri sendiri. For some people, my rate card seems too low, tapi buat saya imbalan materi yang saya dapat udah cukup, karena ada hal-hal fundamental lain yang saya pertimbangkan saat menerima sebuah tawaran kerjasama. Diantaranya adalah healthy food product, lebih spesifiknya ke produk lokal / gluten free; kalopun berupa alat ya nanti resepnya sekarepna dhibik alias sekarepku dewe, dan waktunya yang ga mefet-mefet. If you, yes hey you, meet this criteria, you know I'd be more than happy to post more than our agreement 😉 *sebwah promosi terselubung

Karena lewat produk-produk tersebut, saya juga terbantu untuk membangun imej sebagai sailormoon. eh. maksudnya portofolio sebagai pegiat produk lokal bersahaja nan sehat eaaaa... Dan psssst, saya udah ngerasain banget bagaimana efek mouth to mouth itu. Dari bantuin seseorang dengan produk lokalnya, lalu dari sana nama saya dibagikan ke sesama pengusaha lokal juga, seneng! 😊

Skalanya memang ga masif, tapi udah cukup banget buat kapasitas saya saat ini. Mengerjakan produk lokal itu, entah ya ada kesenengan tersendiri. Mengetahui bahwa produk yang kamu olah itu berasal dari petani lokal, yang waktu tempuhnya ga jauh-jauh amat dari tempat tinggalmu (yang artinya ga banyak jejak karbon), bikin bangga dan memperluas perspektif kita tentang makanan dan kehidupan 😋 uhuy

Jadi... jadi... kita mesti gratisin endorsement gitu? 🙄

Yha ga gitu juga Maliiiiiiih 😒

Teringat tahun lalu ikut webinar-nya inijie, salah satu pertanyaan saya waktu itu kira-kira begini. Saat ini ada banyak akun yang punya followers bejibun tapi fotonya ya asal terang gitu, lha kita yang fotonya jauh lebih mendingan tapi followers sak uprit jadi makin disinisi ahensi dong ya, apalagi kalo kita ngasi ratecard yang lebih tinggi. Seingat saya, jawaban Inijie, "keep on doing what you're doing: know your worth and value. Dengan ngasi rate yang 'wajar', sesungguhnya kita sedang mengedukasi brand dan ahensi untuk menghargai kerja profesional seorang fotografer, bahwa yang kita lakukan ga sekadar njepret asal aja. Yah meskipun toh kita njepretnya sambil dasteran, but we know what we're doing: lighting, composition, styling, baking/cooking, writing, etc. 

Lho.. lho... jadi benernya piye? Ngasi rate cardnya mesti yang murah aja, yang wajar atau yang mahal toh? 🤔 Well, it's up to you. Ga ada benar salah di sini, kita bebas kok pasang tarif berapa atas segala jerih payah kita, kan kita sendiri yang tahu kemampuan kita 😉

Jadi, gimana, masih bingung soal ratecard?

No comments