reconnect



Suatu hari, seorang kawan seniman bertanya pada saya, bagaimana bisa saya membagi - bukan hanya waktu - tapi jiwa/pikiran antara memasak/baking/motrek/bikin video dengan membagikannya di media sosial. Dia bercerita, bahwa saat sedang sibuk membuat karya, dia lupa keberadaan ponselnya, tak pernah terlintas di kepalanya tentang membagi aktivitasnya pada orang asing, tak juga terbersit di pemikirannya bahwa hal-hal di luar karyanya (behind the scene, proses, dirinya sendiri, pemikirannya) bisa menjadi nilai tambah yang menggenapi cerita tentang karyanya. Menurutnya, dia adalah seorang crafter, bukan marketer.
.
.
Saya menjawab dengan fasih saat itu, bahwa berbagi adalah hal yang menyenangkan. Kita bisa mendapatkan banyak masukan, cerita, ilmu baru, teman baru yang sefrekuensi dengan aktivitas yang kita kerjakan atau pemikiran kita. Zaman sekarang, hampir tak ada garis demarkasi antara artist dan seller saat kita nyemplung ke media sosial. Bagi saya yang terberat saat itu adalah membagi waktu antara membelah diri menjadi alter ego dianandariskia si pegiat olahan gluten free yang suka curcol dengan balutan kegagalan diri penuh hahahihi dengan si kiki yang seorang ibu, istri dan diri sendiri. It takes a whole lotta energy to do both, menyusui sambil ketawa ketiwi balesin chat dan ga sadar ada bola mata mungil yang memandangi ibunya, yang entah ada dimana jiwanya. But hey, that's my passion you know!  i feel like i'm being a productive woman when I share my photos, video, creation, thought.
.
.
Si seniman tadi kemudian memuji saya, dan sejujurnya saya bangga pada diri sendiri. Meski tak lama kemudian, percakapan kami sore itu menggugah sesuatu yang lama saya sadari sebelumnya namun enggan saya ladeni.
.
.
Are we selling ourselves, our soul?
.
.
Di era pemasaran digital saat ini, produk dibeli bukan hanya karena kualitasnya, tapi karena cerita yang menggugah emosi pembeli. We are seeking connection. we are hunger for attention. we are looking for validation. we need emotional relation because we dont wanna be (feel) alone. Di antara rumusan algoritma media sosial yang njelimet, benang merahnya hanya satu: the more you engage, the more they come. Semakin tinggi keterlibatanmu (waktu, emosi), semakin banyak perhatian tertuju padamu. Karena itu konten yang mengharu biru, playing victim, marah-marah ga jelas, penuh drama akan mengundang penonton semakin banyak. Not saying that everyone who share their thought are bad ya. Ini kayak ngomongin pisau, di satu sisi manfaatnya banyak banget, tapi di sisi lain bisa menjadi senjata berbahaya.
.
.
Anyway, what I'm trying to say is..... beberapa bulan terakhir ini dengan berada di instagram terasa... not feel good. Mungkin saya lagi kehilangan purpose. Mungkin saya lagi di fase bosan dengan segala aktivitas yang melibatkan instagram. Mungkin saya lagi... losing touch with my own self and my family and I want to reconnect again. Mungkin saya lagi di tahap menganggap instagram sebagai noise yang ingin saya kurangi frekuensinya. Mungkin saya hanya sedang ingin menikmati apa-apa yang saya bikin dengan keluarga kecil saya sendiri, tanpa orang lain tahu.
.
.
Tentu, semua ini tak lepas dari previlase yang saya miliki, that I dont have to work my ass off to make living. I acknowledge that and I'm thankful and I support whoever earn money from instagram. It's not about you, it's all about me.
.
.
Maka, beberapa minggu terakhir ini mengganti kacamata yang selama ini saya pakai: memandang apapun bisa dijadikan konten. ahahhahahaha. Honestly, sangking content mindednya, saya tuh kalo bikin insta story selalu dipersiapin dengan matang loh, ga bisa sekadar snap lalu aplod. Videonya max 15 detik ya diedit, captionnya apa, sequence, memenya apa aja buat bridging ahahahahha. Bikin sarapan aja, udah terbayang 'eh asik nih kalo dibikin story", "eh tar nyutingnya dari sini", dsb. Saya ga menyesal kok bikin story selama ini karena memang saya suka. Hanya akhir-akhir ini, terasa sekali kalo saya mulai disconnect dengan kehidupan nyata, dan apa-apa ingin distoryin, dih caper bener hihihihi. Karena itu sebelum makin parah, saya mundur perlahan. Tiap hari masih baking kok, masih motrek dan kadang nyuting juga. Cuma ya gitu, belum ada keinginan buat disyeeeer (ini seminggu terakhir bikin sourdough 4x, yang akhirnyaaaa dapet juga bunny ear dan open crumb setelah namatin bukunya Vanessa Kimbell (dan mau lanjut bukunya Ken Forkish)). Highlight udah saya hapus semua yaaaa, monmaap buat yang nyari. Kalo feed, enggak ga dihapus kok. Ini nanti juga masih akan ngendon di sana nyelesein utang postingan. Yang jelas sih ga akan nongol sesering dulu, palingan cuma liatin story temen-temen hihi. I need to catch up with myself and my family first. Nanti kalo senggang, akan lebih memilih ngeksis di blog daripada di ig.
.
.
Sooooo, akhir kata, see you when I see you!

No comments